Oleh : Ghofur A.W
| Suasana Pasar Tradisional |
Selama
ini kita selalu beranggapan bahwa kapitalisme adalah hal-hal yang berbau
kekuasaan, kekuatan ekonomi, dan penguasaan asing atas aset-aset ekonomi
bangsa. Artinya bahwa kapitalisme memiliki konotasi hanya dilakukan oleh
orang-orang yang memiliki kekuasaan tertentu , modal yang besar dan jaringan
yang kuat. Tetapi ternyata bukan seperti itu apa yang saya amati selama ini.
Kapitalisme dapat saja terjadi dilingkungan para pelaku ekonomi lemah salah
satunya adalah para pedagang pasar. Mengapa demikian, sesuai dengan definisi
kapitalisme itu sendiri yaitu kata “kapital” dalam istilah “kapitalisme” berasal
dari bahasa Latin, “caput” yang berarti “kepala”. Pada abad 12-13, istilah
tersebut mulai berubah makna menjadi “dana”, “sejumlah uang”, “persediaan uang atau
barang” berikut “bunga uang pinjaman”. Pada perkembangannya kemudian,
kapitalisme pun diartikan sebagai paham yang menempatkan uang/modal di atas
segala-galanya. Dan hal ini kerap terjadi dilingkungan pasar tradisional,
karena ada potensi-potensi yaitu penguasaan terhadap beberapa komoditi
perdagangan pasar yang dapat menyebabkan penguasaan terhadap penentuan harga
jual yang sepihak dari pedagang, sehingga dapat merugikan pembeli sebagai
konsumen.
Dalam
kaitanya dengan potensi kapitalisme di pasar tradisional, perlu adanya suatu
gerakan untuk mengeliminasi kecenderungan-kecenderungan itu agar jalinan
ekonomi rakyat antara pedagang dan pembeli tetap sempurna. Yaitu tidak ada
pihak yang merasa dirugikan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pengarahan-pengarahan
kepada para pedagang pasar tentang pentingnya idiologi pancasila. Dalam
idiologi pancasila tentu kebersamaan menjadi ikon penting dalam pembangunan
ekonomi bangsa, sesuai dengan yang di cita-citakan oleh para pendiri bangsa
tentang konsep ekonomi nasional yang berlandaskan kerakyatan.
Karena jika idiologi pancasila tidak menjadi
landasan hidup pelaku ekonomi pasar tradisional, tidak menutup kemungkinan
suatu ketika bahwa pasaratradisional menjadi ajang kapitalisme. Dan tentu hal
ini menjadi sangat berbahaya bagi perputaran perekonomian rakyat menengah
kebawah. Mengapa demikian, jika persaingan harga pasar tradisional telah tidak
lagi terkendali, yaitu masing-masing individu menginginkan harga dan penawaran
tersendiri tanpa mempedulikan samping kanan kirinya tentu tidak menutup
kemungkinan hanya para pedagang dengan basik modal besar dan jaringanlah yang
mampu bertahan.
Dan
solusi dari permasalahan ini adalah dengan memberikan pembelajaran bagi
pedagang tradisional, seperti yang di lakukan oleh gerakan Sekolah Pasar, di
pasar Kerangan Yogyakarta. Sekolah pasara adalah gerakan pendidikan bagi para
pedagang pasar yang kita tau bahwa selama ini para pedagang pasar belum
memiliki pendidikan yang memadai untuk melakukan kegiatan ekonomi. Seharunya
gerakan seperti ini menjadi agenda pemerintah sesuai amanah konstitusi bahwa
pendidikan adalah ahak segala warga negara. Agar potensi kapitalisme dapat di hilangkan
dari lingkungan pasar tradisional.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !