Headlines News :

Info Donatur

Terima Kasih Untuk Para Donatur : Maha Raja Effendy / Ariyanto / Ghofur / Irfan / Ratna Intan / Amalia Fitriani-IECS Terima Kasih Untuk Donatur : Prody MANAJEMEN FE - UMB YOGYAKARTA Untuk Jadi Donatur Silakan Hubungi: Ariyanto

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Ayo Bangun Taman Baca Desa

Written By Ryan Ariyanto on Rabu, 28 November 2012 | 21.44




Membaca  tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Membaca digunakan oleh manusia untuk menggali ilmu pengetahuan dan informasi. Membaca mempunyai fungsi intelektual, sosial, dan emosional. Selain itu, dengan membaca akan membuat manusia mampu menggunakan kemampuan analisis, imajinatif serta memberi stimulus untuk selalu obyektif dalam menilai segala hal yang bertumpu pada pemikiran para ilmuwan. 

Salah satu keberhasilan dari membaca adalah melahirkan individu yang mampu belajar secara mandiri. Dalam hal ini, individu mampu menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap apa yang di bacanya. Oleh sebab itu, diperlukan media pelajaran (buku penunjang) yang dapat memberikan cakrawala bagi kehidupan manusia. Penunjang pelajaran yang baik tentunya mampu mengakomodasi kemampuan individu dalam mengembangkan aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

logo baru Taman Baca Mapemda
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah saat individu membaca buku penunjang, buku tersebut hendaknya, mampu mengejawantahkan kemampuan pribadi dan kelompok sesuai dengan usia atau tingkatan individu (kelas). Hal ini berhubungan dengan prinsip bahwa membaca bukan semata teori yang harus dihafal, namun membaca juga merupakan media yang dapat memberi hiburan dan kesenangan tersendiri atas apa yang di bacanya.

Perjalanan saya bersama “Mahasiswa Peduli Masyarakat Desa (MAPEMDA)” yang merupakan gerakan sadar mahasiswa untuk mengabdikan diri kepada masyarakat sebagaimana fungsi kaum intelektual seharusnya untuk memanusiakan manusia lainnya. Dari perjalanan dan riset di berbagai desa-desa di Jawa Tengah umumnya salah satu kendala yang menghambat individu atau masyarakat untuk dapat menerapkan budaya membaca adalah kurangnya wadah atau sarana yang menyediakan buku-buku bacaan, terlebih pada masyarakat pedesaan yang letaknya jauh dari toko-toko buku dan perpustakaan. Selain itu keadaan ekonomi masyarakat desa juga menjadi pertimbangan mengapa mereka kemudian tidak peduli akan pentingnya budaya membaca baik bagi mereka atau generasi penerus, anak dan cucu mereka. Sungguh ironi dan menyakitkan hati jika kita harus berdiam diri melihat kenyataan pahit ketimpangan hidup desa-kota.

Permasalahan didesa yang selalu berkaitan dengan ekonomi tentu menjadi masalah yang serius. Bagaimana tidak saat sebuah desa yang penduduknya tidak lagi mempercayai tanah kelahirannya mampu memberikan kehidupan, memaksa diri untuk keluar mencari peruntungan, pertanyaannya adakah bekal ilmu ia bawa? Tentu tidak, nekat dan berpegang pada satu keyakinan bahwa tuhan itu ada. Pemuda desa kini tidak lagi ingin menjalani hidup di desa, kota terlalu manis melambaikan tangan, mengiurkan yang pada akhirnya memberi kesengsaraan karena tidak mampu bersaing. Sungguh desa berpotensi, namun mata telah tertutupi akan kurangnya pengetahuan untuk mengembangkan diri.

Permasalahan ekonomi muncul tentu beriringan pula munculnya masalah sosial lainnya. Dalam perjalanan saya di desa-desa di daerah Jawa Tengah, ada yang mengiris hati kecil saya. Betapa tidak saat saya menjumpai seorang gadis belia, usia di bawah umur sedang menyusui bayi kecil yang lucu, yang dimatanya terpancar keputusasaan. Pernikahan dini ternyata, lulusan sekolah dasar (SD) sudah harus mengarungi kerasnya dinamika rumah tangga, ini prestasi kemunduran. Mengapa semua ini terjadi, tidak lain karena faktor ekonomi, yang membutakan mata bahwa kehidupan didepan masih panjang, masih ada harapan untuk lebih baik. Dan mengapa masalah ekonomi muncul kepermukaan, tidak lain karena lemahnya pendidikan, kurnganya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Dan pendidikan itu tidaklah selalu lisan namun juga di sampaikan melalui tulisan, membaca tentu menjadi hal pokok dalam memenuhi pundi-pundi ilmu.

Berlatar belakang semua itu muncul inisiatif dalam rangka pengembangan pendidikan untuk mendirikan taman baca desa . Dengan keberadaan taman baca tersebut secara umum masyarakat dari berbagai golongan baik pelajar, guru, petani, pedagang, dan masyarakat umum dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan informasi, pengetahuan, bimbingan, hiburan dan lain sebagainya melalui buku yang disediakan. untuk memenuhi tuntutan dan kepuasan masyarakat untuk memperluas khazanah keilmuan. Dalam perkembangannya taman baca desa tidak hanya memberikan layanan dalam hal pemberian kemudahan dalam konsumsi buku bacaan namun juga memberikan wadah diskusi, bimbingan belajar membaca,  bimbingan belajar mandiri, dan pengembangan wirausaha desa yang semuanya dilaksanakan secara gratis bagi pelajar dan masyarakat umum. Memang terihat kecil, namun diyakini bahwa dari yang kecil inilah kita bisa meIndonesiakan Indonesia, sebuah bangsa yang bermartabat, sama rata, sama rasa dan memiliki hak untuk berkembang yang sama pula.

Tentu jalan juang individu berbeda-beda, terutama mahasiswa. Ada diantaranya yang berjuang melawan terjalnya kebijakan pemerintah, ada yang berjuang dalam pengembangan riset dan penelitian untuk bangsa dan ada yang mengabdikan diri untuk masyarakat. Dan yang perlu di garis bawahi bahwa negeri ini dapat bernafas dari udara rakyat melalui pajak yang mereka berikan, sudah barang wajib hukumnya kita berbuat untuk rakyat. Dan dalam hal ini masyarakat pedesaanlah yang memerlukan rasa kepedulian kita akan pendidikan. Jika setiap desa memiliki satu gerakan budaya membaca yang dikoordinasi dengan baik dan penuh rasa keinginan memajukan bangsa ini, maka pastilah kita menjadi bangsa yang lebih maju. Mahasiswa adalah manusia yang sadar maka mari bangun dari mimpi dan ciptakan mimpi.

"Ayo Bangun PTDes”

Written By Ryan Ariyanto on Jumat, 23 November 2012 | 04.54





Perjalanan riset saya di desa-desa Indonesia menemukan masalah mendasar berupa lemahnya penguasaan rakyat desa atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah ini telah lama berimplikasi pada kelambatan inovasi bisnis, kecilnya nilai tambah ekonomi, dan ketergantungan desa pada perantara dari luar desa, pun termasuk perguruan tinggi dan LSM. Keberdikarian dan keahlian orang desa yang dahulu pernah mewujud telah memudar dan berganti oleh dominasi korporasi swasta besar dari luar desa.
Ribuan fakultas di perguruan tinggi se-Indonesia kiranya belum sepenuhnya mampu menjawab akar persoalan ekonomi rakyat desa tersebut. Sedikitnya kisah sukses desa mandiri seakan menjadi pertanda pendidikan tinggi kita yang belum sepenuhnya berorientasi pada keberdikarian desa. Alih-alih itu, jiwa keberdikarian perguruan tinggi justru masih menjadi tanda tanya manakala terjadi penetrasi institusional Bank Dunia dan Pemerintah AS di beberapa perguruan tinggi kita.
Banyak anak-anak muda desa yang telah dididik di perguruan tinggi kita tetapi sebagai besar justru menjadi lupa dengan jatidiri dan tugas mulianya untuk kembali membangun desa. Sebagian mereka bahkan lebih bangga berdasi meski hanya untuk sekedar menjadi buruh korporasi dari luar negeri. Pun sebagian lagi telanjur tercerabut dari akar mereka di desa, namun tak juga mendapat tempat di pasar tenaga kerja, sehingga menambah panjang deret pengangguran terdidik di negeri ini.
Pendidikan kita tak kunjung mampu merombak pola relasi yang timpang antara desa dan kota. Desa dengan segala kekayaannya masih menjadi pemasok yang setia bagi kemakmuran masyarakat kota dengan kontraprestasi yang tidak sepantasnya. Telah begitu banyak hutan dan kebun yang ditumbuhkan, pun tak terhitung lagi jutaan ton aneka mineral dan tambang yang dikeruk dari desa, sementara mayoritas penduduk miskin masih tertinggal di desa, dan marjinalisasi terus terjadi di sana.
Melihat berbagai situasi ini kiranya kita perlu berhitung ulang atas peran perguruan tinggi atas kemajuan desa. Pola relasi yang selama ini terbangun di mana prakarsa transfer iptek selalu datang dari luar desa perlu ditinjau ulang dengan semangat tranformasi kuasa pengetahuan oleh rakyat desa. Efektifitas proses tersebut sangat ditentukan oleh keberhasilan  penguasaan metodologi pengembangan iptek oleh mereka, di mana mereka lah yang akan merancang tata kelola pengetahuan dan pembangunan di wilayah desa.
            Berlatar belakang itulah saya membayangkan model pendidikan alternatif yang saya sebut dengan “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)”, yang selanjutnya dapat diberi nama secara khusus semisal Sekolah Tinggi Sriharjo (Sriharjo College), Argosari Cllege, dan sebagainya. Dalam PTDes maka rancang bangun pendidikan yang berbasis kemakmuran dan keberdikarian desa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat desa.
Pun semua keahlian yang diperlukan untuk membangun desa disedikan oleh PTDes yang akan mendisain kurikulum, merekrut tenaga pengajar dari dalam dan luar desa, serta menyelenggarakan bermacam pendidikan dan pelatihan aplikasi iptek yang diperlukan seluruh warga desa. PTDes ini kiranya sejalan dengan perluasan peran desa yang menjadi semangat RUU Desa yang akan segera disahkan oleh Pemerintah dan DPR.
            PTDes inilah yang akan merebut kuasa iptek yang selama ini didominasi oleh elit-elit akademisi di pusat kota bahkan di luar negara. Ialah juga akan mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli produktif desa yang memiliki keahlian spesifik semisal di bidang teknik, usaha, sosial-politik, hukum, dan kesehatan untuk diabdikan sepenuhnya bagi kemajuan dan keberdikarian masyarakat desa. Tugas mulia mereka adalah memobilisasi penggunaan potensi sumber daya domestik desa dengan penguasaan iptek mereka.
            PTDes akan menjadi media revolusi kebudayaan (kesadaran) dan persemaian keahlian warga desa, semisal dalam inovasi energi berbasis tenaga surya, mikro-hidro, sampah, dan kotoran ternak. Pun ia akan menjadi inkubator pemikiran dan perencanaan tumbuh kembangnya bisnis koperasi, ekonomi rakyat desa, trading house, klinik kesehatan, keuangan mikro, wisata desa, industri rumah tangga dan industri desa, serta berbagai inovasi berbasis iptek lainnya.
            Model seperti ini telah berhasil dilakukan di India oleh Bunker Roy dengan Bare-foot College-nya yang sudah membuat warga desa mampu menguasai energi berbasis tenaga surya. Bare-foot college juga telah mendidik warga desa untuk memiliki keahlian professional sepertihalnya teknisi, guru, akuntan, dan sebagainya, seperti yang biasa dilakukan lembaga pendidikan formal di kota-kota besar. Lebih dari itu Roy telah mengenalkan model Sekolah Malam (Night School) bagi anak-anak desa yang karena keterbatasan keluarga harus bekerja di siang hari.
            PTDes yang dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh masyarakat desa akan menjadi konsultan bagi rencana pembangunan desa dan berbagai program (project) yang masuk ke desa. Ialah yang akan membantu mengarahkan proses transformasi desa melalui rancang bangun pemajuan dan pemandirian desa selama kurun waktu 5-10 tahun depan. Pada akhirnya melalui PTDes lah masyarakat desa sanggup dengan penuh wibawa mengucapkan selamat tinggal pada Bank Dunia. Cukup sudah utang-utang lunak yang harus dikompensasi mahal dengan terkurasnya kekayaan alam Indonesia.
            Pada awalnya disain PTDes dirancang se-sederhana mungkin dengan mempertimbangkan kapasitas sumber daya desa. Pendanaan dapat dilakukan melalui dukungan APBDes, dana pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM nasional. Dalam pelaksanaan programnya maka PTDes dapat berkerjama dengan berbagai perguruan tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, Dinas Pendidikan, dan LSM, tentu dengan perencaan kolektif yang didasarkan pada kebutuhan dan rencana kerja PTDes.
             Dalam pada itu, sesuai dengan tuntutan perubahan peran perguruan tinggi di atas, maka tugas mulia kita adalah melembagakan pendidikan alternatif tersebut melalui fasilitasi pendirian PTDes. Perguruan tinggi lah yang akan mengajari calon-calon pengelola PTDes bagaimana mendisain kurikulum, metode pembelajaran, rekruitmen ahli, dan proses penyelenggaran pendidikan dan pelatihan sampai pada kebutuhan-kebutuhan detail dan operasional.
            Saya sangat memimpikan keberadaan PTDes ini dan akan berupaya sekuat tenaga untuk merealisasikannya. Sampai saat ini saya banyak daerah dan kota yang saya datangi untuk berbicara tentang ekonomi kerakyatan dan keberdikarian ekonomi desa. Sayangnya kebanyakan undangan tersebut berasal dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan LSM, bahkan mungkin tak pernah sekali pun yang berasal dari organisasi rakyat desa, mereka yang selama ini rajin dan rutin kita diskusikan.
            Sungguh Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri. PTDes yang memberi kesempatan dan kemampuan masyarakat desa untuk mengelola pengetahuan secara mandiri adalah salah satu alternatif untuk itu. Sungguh saya sangat memimpikan kelak banyak undangan mengajar, seminar, pelatihan, dan diskusi dari organisasi rakyat desa seperti PTDes. Pada saat itulah pertanda sinar kebangkitan kembali rakyat desa Indonesia mulai terpancar dan harapan mereka untuk menjadi tuan di desa sendiri akan segera menjadi kenyataan. Semoga.


[1] Dosen negeri dpk di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Ketua Bidang Diklat Mubyarto Institute, dan Pendiri Sentra Ekonomi Kerakyatan (Sekra), ph: 08161691650, web: www.ekonomikerakyatan.com,
email: satriaegalita@yahoo.com

Pendidikan murah, mungkinkah?

Oleh :  Junaedi Ghazali

Kemarin malam saya diundang ke acara syukuran teman yang baru saja secara resmi membuka lembaga kursusan Bahasa Inggris. Nama lembaganya Eager Beaver; Berang-berang pemberani. Pemberian nama itu bukan tanpa maksud di baliknya. Dalam brosur yang saya dapatkan, di situ tercantum bahwa untuk harga bisa nego, bahkan gratis. Yang lebih berani lagi, kursusan tesebut diadakan di tempat yang tidak biasa, menggabung di sebuah tempat makan. Buat Mahasiswa Jogja, pasti tak heran mendengar nama Gudeg Mbak Sasha. Nah di situlah lembaga Kursus ini menggabung dengan memanfaatkan ruang tengah rumah sang pemilik rumah makan.

Dalam sambutan yang diberikan oleh miss Anna, sang pelopor kursusan ini, beliau menyatakan bahwa sudah lama sebenarnya ingin mendirikan lembaga kursus Bahasa Inggris. Bahkan sejak kuliah S1 semester 2. Sekarang beliau kuliah S2 setelah mengajar selama 14 tahun di sebuah sekolah di Malang. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa cita-cita yang lainnya adalah tetap mampu memberikan pendidikan yang terjangkau tanpa harus mengurangi kualitas. Dengan berbekal pengalaman, keberanian dan dukungan dari banyak teman Eager Beaver kemudian berdiri.

Sambil makan tumpengan yang disediakan, saya sempat mengobrol dengan beberapa teman yang diundang. Kebanyakan teman-teman komunitas, mahasiswa dan juga salah satu staff English Native. Kebanyakan dari mereka siap mendukung, dengan cara ikutan atau menyebarluaskan. Lumayanlah, promosi gratis. Lebih efektif daripada nyebar poster dimana-mana.

Saya sendiri cukup salut dengan keberanian Miss Anna. Di tengah kota pusat pendidikan, tidak sulit rasanya jika kemudian beliau mematok tarif yang "lumayan" untuk mengisi kantong. Tapi ternyata beliau berfikir berbeda. Masih ada ruang yang beliau sisihkan untuk teman-teman yang mungkin untuk kebutuhan harian saja masih pikir-pikir. Beliau mampu menghidupkan anggapan bahwa pendidikan tak harus mahal.

Menyaksikan apa yang beliau lakukan dan membandingkan dengan lembaga pendidikan semacam sekolah formal saat ini cukup membuat hati merasa miris. Banyak orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan kemudian justru menjadikannya sebagai lumbung uang. Memang, pemerintah gencar mengkampanyekan wajib belajar dan biaya pendidikan gratis. Tapi dalam pelaksanaannya, orang-orang ini selalu mendapat celah untuk tetap menguras uang dari kantong-kantong orangtua, entah bagaimana caranya. Entah itu sumbangan pembangunan, buku, baju seragam dll.

Saya tidak mengatakan bahwa cara itu tidak pantas. Kita mungkin cukup tahu bagaimana keadaan kebanyakan guru di negri ini. Untuk hidup sebulan saja harus pontang-panting kesana-kemari mencari tambahan uang makan. Hanya saja, hal itu tidak akan terjadi jika pemerintah dan juga masyarakat sadar akan arti pendidikan. Bukan hanya sekedar belajar dan kemudian nilai keluar. Kalau itu saja tujuannya, semua juga bisa. Tinggal datang ke kantor dinas pendidikan, setor uang, Ijazah keluar.

Janji pemerintah untuk menganggarkan lebih dari APBN untuk disalurkan ke bidang pendidikan, ternyata kemudian ditanggapi lain oleh orang-orang yang sengaja mencari peluang. Setiap ada proyek, anggaran dilebihkan. Gaji para guru dipotong sana-sini. Efeknya, kesejahteraan guru hilang. Fasilitas yang diberikan terbatas. Murid kemudian tak mendapat input yang berarti karena gurunya tak menguasai dan juga mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Apa yang ada di buku, itulah yang diajarkan. Guru-guru tak sempat mencari tambahan ilmu dan juga mengevaluasi hasil mengajarnya secara maksimal.

Orang tua yang khawatir kelak anaknya tak lulus ujian karena kualitas mengajar gurunya meragukan, kemudian rela menginvestasikan uangnya ke lembaga-lembaga luar sekolah. Alih-alih duduk tenang mendengarkan guru les mengajar, murid-murid justru sekedar titip absen dan kemudian cabut entah kemana. Karena orientasinya memang uang, guru-guru les ini banyak yang tak ambil peduli.

Selain itu, tidak adanya pondasi yang cukup matang mengenai pendidikan di masyarakat, membuat banyak orang tak cukup peduli jika kemudian ada fenomena semacam murid bolos sekolah, tawuran antar pelajar, atau tindakan kriminal. Mereka sekedar memaki dan kemudian sudah. Tak ada upaya berarti seperti mencoba untuk sekedar menegur atau bertanya. Ketidak pedulian ini kemudian membuat banyak siswa merasa imun jika kemudian di sekolah dan di rumah ada yang meributkan soal absen yang banyak kosongnya.


Dari sekian persoalan yang saya sebutkan di atas, bisa diperkirakan berapa banyak kerugian baik secara materi, maupun immateriil. Di saat banyak orang berusaha untuk tetap sekolah dan kemudian putus asa karena tidak adanya dukungan dari sesama, kita melihat secara terang-terangan upaya pemborosan dan juga penghancuran tujuan dari pendidikan. Maka tak heran jika banyak yang menyangsikan fungsi pendidikan. Maka adalah sesuatu yang wajar jika kemudian semakin banyak orang yang menjadikan anaknya sebagai mesin penghasil uang ketimbang pribadi yang lebih bernilai dan berarti.

Salah satu dosen saya pernah mengatakan, pendidikan bukan hanya soal mengajar dan kemudian keluar ruang. Pendidikan mempunyai lebih. Ia mampu membuat seseorang sadar bahwa setiap orang memiliki peran dan juga nilai. Dari situ, kemudian akan tumbuh sistem dimana satu sama lain saling menopang dan berkembang. Bukan hanya sekedar ada dan kemudian menguntungkan diri sendiri sementara yang lain tetap sengsara. Kalau sampai pendidikan hanya sekedar menjadi alat mencari uang, mendingan tak usah ada sekolah. Masih banyak tempat yang mampu menyediakan ilmu mencari uang.


Apa yang beliau katakan, sebenarnya bisa saja terjadi. Belajar bukan hanya sekedar datang, duduk, diam di kelas. Mengajar bukan juga sekedar datang, memberi tugas, kemudian pulang. Masing-masing manusia mampu belajar dan mengajar. Hanya saja caranya berbeda. Dari situlah kemudian pendidikan mampu berjalan. Saling mengamati, berbagi dan menyediakan ruang untuk aplikasi. Satu sama lain saling manjaga dan memberikan apa yang dibutuhkan.Tak harus uang sebagai ukuran. Dan kalau uang bukan lagi ukuran, maka bukan tak mungkin jika pendidikan murah berkualitas apat dilakukan. Asal saling percaya dan mau memberikan apa yang kita punya. Cukup utopis sepertinya. Tapi kalau tak ada yang memulai, siapa lagi?

ps: penulis bukan tenaga pengajar Eager Beaver
 
      

POTENSI KAPITALISME PASAR TRADISIONAL

Written By Ryan Ariyanto on Rabu, 21 November 2012 | 05.20



Oleh : Ghofur A.W

Suasana Pasar Tradisional
Selama ini kita selalu beranggapan bahwa kapitalisme adalah hal-hal yang berbau kekuasaan, kekuatan ekonomi, dan penguasaan asing atas aset-aset ekonomi bangsa. Artinya bahwa kapitalisme memiliki konotasi hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan tertentu , modal yang besar dan jaringan yang kuat. Tetapi ternyata bukan seperti itu apa yang saya amati selama ini. Kapitalisme dapat saja terjadi dilingkungan para pelaku ekonomi lemah salah satunya adalah para pedagang pasar. Mengapa demikian, sesuai dengan definisi kapitalisme itu sendiri yaitu kata “kapital” dalam istilah “kapitalisme” berasal dari bahasa Latin, “caput” yang berarti “kepala”. Pada abad 12-13, istilah tersebut mulai berubah makna menjadi “dana”, “sejumlah uang”, “persediaan uang atau barang” berikut “bunga uang pinjaman”. Pada perkembangannya kemudian, kapitalisme pun diartikan sebagai paham yang menempatkan uang/modal di atas segala-galanya. Dan hal ini kerap terjadi dilingkungan pasar tradisional, karena ada potensi-potensi yaitu penguasaan terhadap beberapa komoditi perdagangan pasar yang dapat menyebabkan penguasaan terhadap penentuan harga jual yang sepihak dari pedagang, sehingga dapat merugikan pembeli sebagai konsumen.

            Dalam kaitanya dengan potensi kapitalisme di pasar tradisional, perlu adanya suatu gerakan untuk mengeliminasi kecenderungan-kecenderungan itu agar jalinan ekonomi rakyat antara pedagang dan pembeli tetap sempurna. Yaitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pengarahan-pengarahan kepada para pedagang pasar tentang pentingnya idiologi pancasila. Dalam idiologi pancasila tentu kebersamaan menjadi ikon penting dalam pembangunan ekonomi bangsa, sesuai dengan yang di cita-citakan oleh para pendiri bangsa tentang konsep ekonomi nasional yang berlandaskan kerakyatan.

            Karena jika idiologi pancasila tidak menjadi landasan hidup pelaku ekonomi pasar tradisional, tidak menutup kemungkinan suatu ketika bahwa pasaratradisional menjadi ajang kapitalisme. Dan tentu hal ini menjadi sangat berbahaya bagi perputaran perekonomian rakyat menengah kebawah. Mengapa demikian, jika persaingan harga pasar tradisional telah tidak lagi terkendali, yaitu masing-masing individu menginginkan harga dan penawaran tersendiri tanpa mempedulikan samping kanan kirinya tentu tidak menutup kemungkinan hanya para pedagang dengan basik modal besar dan jaringanlah yang mampu bertahan.
            Dan solusi dari permasalahan ini adalah dengan memberikan pembelajaran bagi pedagang tradisional, seperti yang di lakukan oleh gerakan Sekolah Pasar, di pasar Kerangan Yogyakarta. Sekolah pasara adalah gerakan pendidikan bagi para pedagang pasar yang kita tau bahwa selama ini para pedagang pasar belum memiliki pendidikan yang memadai untuk melakukan kegiatan ekonomi. Seharunya gerakan seperti ini menjadi agenda pemerintah sesuai amanah konstitusi bahwa pendidikan adalah ahak segala warga negara. Agar potensi kapitalisme dapat di hilangkan dari lingkungan pasar tradisional.

TUALAN INVESTASI MASA DEPAN


Oleh : Birhasani HB
Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuda Islam (FKPI) dan Pendiri Taman Baca Emas

Sinar matahari sangat terasa panas menyinari tubuh ku, sangat gerah rasanya dan membuatku menancap laju motorku agar cepat sampai kekantor. Rasanya tak kuat ku rasakan sinar mentari itu sangat terasa sekali panasnya, terbukti sesampainya aku dikantor rasa gerah tetap tidak bisa hilang meski ruangan ku disejukkan AC yang menerpa tubuh ku dengan lembut.

AC tidak hentin-hentinya membelai lembut muka dan tangan ku dan seakan dia tak pernah jemu menyebarkan aroma harumnya ukhusus untuk ku,  rasa ngantukpun dia tidak mau tinggal diam, dengan lembutnya dia  menghampiriku dan merayu ku agar aku terlelap dan tidur dengan nyenyak.

Tapi, aku teringat dengan saudara-saudara ku yang tidak mungkin bisa merasakan apa yang aku rasakan, mareka tidak bisa lari dari rialita dan rutinitas. Saudaraku disana tidak bisa lepas dari tuntutan kebutuhan anak istri, mareka tidak bisa lari dari tanggung jawab yang menyebabkan mareka tidak bisa membedakan antara panas dan tidak, antara hujan dan dingin.
Gambar - Lokasi Penambangan Rakyat (Manual) di Kecamatan Kintap, Tanah Laut, Kalsel


Mareka seakan-akan tak peduli dengan perubahan suhu dan udara, saudaraku tak tau dirasa, seakan-akan tubuh mareka tidak bisa membedakan rasa panas dan dingin. Mungkin tubuh mareka sudah terlatih untuk itu, sehingga mareka tidak peduli lagi dengan kondisi yang ada. Yang mareka tau, bagaimana dapur mareka agar bisa berasap dan ada yang dimasak.

Hujan panas sudah menjadi kuah makan mareka, tak sedikitpun mareka gentar dengan dua cuaca tersebut. Selama mareka bisa bekerja, selama karungan bisa diisi selama itu pula gancu tak berhenti berayun mengikuti irama hati pemegangnya. Satu demi satu batu bara lepas dari sarangnya, satu demi satu pula keringat yang jatuh berbarengan dengan jatuhnya ayunan gancu.

Inilah putret daerah ku, putret ini amat indah bila dilihat dari sisi ekonomisnya, tidak jarang kita temui pekarangan rumah memiliki kolam besar yang isinya manusia. Bayangkan saja persis dibelakang rumah dibuka tambang rakyat. Sangat menguntungkan secara ekonomi bagi pemilik tambang tualan. Dua sampai tiga ret perhari minimal batu terjual dari tambang mini tersebut. Bayangkan sangat menguntungkan bukan?????

Tapi yang jadi pikiran ku, apakah proyek tambang tualan ini akan menjamin tercukupinya kebutuhan saudaraku. Apakah saudaraku dapat memahami kalo industri tualan tersebut bersipat semantara yang tak mungkin bertahan sampai puluhan an tahun. kalau saudara-saudara ku dapat memahaminya, maka yang seharusnya terjadi mareka sedari sekarang memikirkan investasi untuk masa depan mareka.

Sudah sepantasnya bos-bos tambang mini ini dari sekarang berpikir kedepan dan merancang investasi yang bernilai jual tinggi untuk anak cucu mareka masing-masing. Jadikanlah Kolam uang ini sebagai batu loncatan untuk mencapai ketahapan yang lebih mapan lagi.

Aku memimpikan akan banyak lahir pengusaha baru didaerahku, kalau mareka mau belajar mengelola keuangan yang ada dan mau lebih  teliti dalam mengatur keluar masuk keuangan mareka.Tapi kalu tidak seperti ini, maka kolam batu akan menjadi cerita pahit dikemudian hari.

AKU BERHARAP SEMUANYA MENJADI BAIK DAN TERKENDALI....
SEMOGA KEBERKAHAN SELALU MENGIKUTI USAHA SAUDARA KU....
TOLONG JANGAN LUPA SISIHKAN DARI KEUNTUNGAN MU UNTUK ORANG YANG MEMBUTUHKANNYA,,,

TETAPLAH BERJUANG UNTUK BANGSA MU DAN BANGSA KU

Donatur

 
Support : Maharaja Effendy | Indonesian Entrepreneur Coffee Shop
Copyright © 2012. Taman Baca Mapemda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger