03 Jam Bersama Putri
Pemimpi Bodoh Minggu 07 Okt 2012
Pengalaman adalah guru yang paling
berharga, begitulah kalimat yang biasa diucapkan, entah untuk kepentingan seni
permainan lidah atau sebagai kiasan dalam nasehat, atau apalah kepentingannya, yang
pasti kalimat ini memang benar-benar manjur.
Kau tak percaya, kalau aku percaya, sedikit banyak aku belajar dari
pengalaman lengkap pahit manisnya dan ku rasa yakin kaupun begitu. Tapi kali
ini aku sedang tak ingin bercerita tentang pengalamanku, terserah kau suka atau
tidak kawan, tapi aku tetap akan membaginya padamu. Ya ini tentang sahabatku
kawan, Putri namanya, kukenal dia setahun yang lalu bulan september 2012 saat
awal masuk kuliah kami memang beda fakultas tapi cukuplah saling mengenal. Kenapa
kubersikeras membagi ceritanya padamu? Karena darinya kau kan tau kawan, pahit
manisnya kehidupan? Nanti kanku ceritakan satu per satu apa saja yang pahit dan
yang manis itu kawan, saat ini cukuplah kau tau siapa dia secara singkat yang
ku dengarkan dari cerita hidupnya selama 03 jam itu kawn. It is true story, ya
benar ini kisah nyata, tak perlu tegang, santai saja.
Sambil menunggu matahari terbenam aku
dan putri duduk santai di sebuah jembatan panjang yang telah di alih fungsi
itu. Memang konyol, menunggu matahari di jembatan padahal dari manapun, juga
dari jendela kamar kos ku yang kecil itupun matahari akan tetap terbenam jika
memang sudah waktunya. Tapi kau pasti taukan alasanya? Benar sekali kawan,
nuansa damai air sungai, kesibukan para penambang pasir, mobil truk yang antri
muatan, petani membawa hasil panen padinya, tukang sate keliling, serta
sesekali kereta api yang lewat di jembatan tepat di depan pandangan kami dan
suasana remang-remang sedikit mendung menjadi daya tarik romantisme. Dari keindahan
dan romantisme yang diciptakan oleh alam dan lingkungan ku dapatkan segaris
waktu sejarah tentang Putri, dengan hikmat dan tanpa beban ia bercerita, senang
betul tanpa ragu. Ku mulai saja kawan, menuliskannya untukmu, tapi kan ku enter
dulu untuk membuat paragraf baru.
Seperti halnya gadis-gadis dan
pejantan-pejantan kampus, pastilah ada yang menjadi idola sorotan lawan jenis,
atau justru menjadi bagian yang menyoroti lawan jenisnya? Nah di manakah kau
berada kawan? Menjadi idola atau pengagum berat sang idola? Kalau aku kau
ijinkan untuk jujur aku tidak berada di keduanya, menjadi mahasiswa biasa-biasa
saja secara fisik dan materi lebih menyejukan hati dan perasaan. Kau tau
kenapa? Karena kaum seperti ini adalah mayoritas darinyalah tercipta yang
menonjolkan diri. Nah aku sudah jujur, terserah kau mau terima atau tidak. Ah
sudahlah, hampir saja ku lupa tujuanku menekan enter tadi, oke kembali kepada
sahabatku Putri, penjabaran secara umum dia juga bukan idola tapi juga bukan
minoritas, entah apa namanya yang pasti banyaklah pejantan-pejantan kampus yang
menandainya. Ya tanda incaran bendera kasih sayang kawan, lebih tepatnya obsesi
dan nafsu seorang pejantan tangguh. Ku katakan jujur saja kawan, karena
begitulah yang sering menjadi top topik di forum tak resmi pejantan tanguh jika
membicarakan sosok Hawa. Putri juga bagian dari kaum Hawa mayoritas yang
menjadi sorotan obsesi para pejantan playboy, lebih tepatnya para pengecut yang
bersembunyi di balik omong besar dan karnaval caci maki rayuan gombal. Untung saja
ia tak menjadi bahan taruhan, yang murah pula nominalnya.
Sebagai ABG tahap
kedua pasca cinta abu-abu Putripun kembali merasakan berbagai serangan surat
lamaran cinta, entah itu tulus atau akal bulus tetap saja kodratnya sebagai
wanita ia senang sekali disanjung dan di besar-besarkan. Dan tanpa sadar
terlelap dalam hembusan nafas-nafas pejantan playboy, tentang bagian ini kan
kuceritakan nanti, lengkap di sesi selanjutnya.
Baiklah, kita lupakan perjalanan Putri
dan pejantan playboy itu. Perlu ku ceritakan padamu kawan, sebenarnya ada sosok
yang luar biasa di kehidupan sahabatku ini, ya dia kekasihnya sebut saja Hero
karena memang ia laksana super hero yang di kirimkan untuk sang Putri. Tanpa kulebih-lebihkan
kawan, baik benar dan mulia hati Adam yang satu ini, ia selalu ada di saat
duka, tapi saat suka ku takpernah melihat kemunculannya, aneh memang. Yang membuatku
merinding bukan karena takut atau cuaca dingin sore itu, tapi saat Putri
berkata bahwa cobaan-cobaan yang mereka hadapi maha dahsyat kawan, usaha pihak
ke tiga memisahkan mereka sudah merambah pada ilmu hitam, ya benar sekali kawan
“dukun”. Ah kau tahan dulu, jangan tegang nanti juga kan ku ceritakan pada sesi
selanjutnya, utuh semua tentang Hero sang Putri, untuk saat ini cukuplah kau
tau pendahuluannya saja.
Masih tentang Putri kawan, sedikit
kuberi tau tentang kehidupannya dalam keluarga kawan. Jujur saja, aku memang
lebih beruntung dari sahabatku ini, aku mendapatkan kasih sayang yang utuh dari
kedua orang tuaku, sedang ia harus merasakan pahit sakitnya perceraian. Mau tidak
mau juga mencicipi yang disebut ibu tiri dan ayah tiri. Memang benar kawan,
walau tidak semuanya tapi tetap saja yang namanya tak sedarah, tak mengadung
kan berbeda perlakuannya. Bukan hanya itu kawan, jika aku sedari kecil tinggal
dalam peluk hangat keluarga, putri kecil beranjak gede sudah harus ikut pamanya
kawan, jauh dari orang tua dan di sini tentu tidak nikmat kawan, tak lebih ia
menjadi seorang pekerja bagi pamanya, hanya cita-cita dan keinginan menjadi
orang yang berpendidikan ia mampu bertahan. Sampai pada saat ia kembali ke
pangkuan ayah kandungnyapun nasib belum memberi peruntungan, masalah demi
masalah terus menghampiri, hingga nasib membawanya ke beranda rumah Ibu yang
mengandungnya, tapi di beranda inilah cerita Putri semakin sakit, perih tak
terkira. Dan di Jembatan panjang itu saat Putri menceritakan perihnnya ku lihat
raut kesedihan mengalir, rasanya ingin ku meminta ia berhenti bercerita, tapi
bibir tegar itu terus saja mengalirkan suara perih. Nanti kanku ceritakan
padamu kawan, tentang Putri Kecil hingga ia yang sekarang, yang masih saja di
selimuti perih. Saat ini cukuplah kau bayangkan perih itu, tapi jangan kau
menjadi lemah.
Sebenarnya, sungguh banyak yang inginku
jadikan pendahuluan dalam 03 Jam Bersama Putri, tapi cukuplah
bagian-bagian penting dan tanpa sensor diatas menjadi gambaran bagimu, karena
nanti, ku berjanji kan menceritakan padamu satu per satu. Dan ku beri satu
rahasia kawan, saat ku lihat wajah tegar itu mulai meredub, eku takut kawan. Aku
takut tak bisa menenangkanya, dan kau tau rahasia menenangkan wanita saat ia
bersedih? Benar sekali kawan, memeluknya. Jangan kau goda aku kawan, ku takan
kuat melakukan itu, sekali lagi bukan karena aku feminim, tapi nanti kau kan
tau dengan sendirinya, di mozaik-mozaik coretan pemimpi bodoh ini kawan. Oleh karenanya,
jika kau ingin merasakan peluk hangat, buatlah moment yang menyedihkan, yang
menyayat, mengiris perih hati. Jika kau tega, kau tak ubahnya pejantan
pecundang kawan. Kenapa? Karena kau telah merencanakannya. Sudahlah terserah
kau saja jika kau bersikeras untuk mencobanya, tapi ku pastikan itu kan
berhasil. Bukan aku menguruimu kawan, tapi aku telah membuktikannya, walau aku
tak mau melakukannya.
Nembob_Pemimpibodoh